Melepasmu

Cape seharian mengurus ini dan itu. Semua sudah tinggal nunggu hari. 80 Persen persiapan sudah semua. Dari gedung, catering, baju, undanganpun tinggal disebar. Masuk ke kamar melepas penat. Ku pandangi foto Arya, orang yang palin aku cintai. Sebulan lagi mimpiku menjadi kenyataan. Mmm tiga tahun menunggunya bukan waktu sebentar ditengah persainganku dengan perempuan lain yang memujanya. Dia memang dambaan semua wanita, cakep, pintar, mapan, karier yang terus menanjak. Aku sungguh beruntung memenangkan dia.

Lamunanku terhenti, pintu kamarku diketuk perlahan.
“Widya, sedang apa?” Ibu menghampiriku dan duduk disamping tempat tidurku.
“SEmuanya sudah beres?” Kata ibu lagi.
Aku mengangguk dan tersenyum.
“Bagus kalau begitu …” Ujar ibu datar. Rasanya ada sesuatau yang ia ingin ia katakana padaku tapi entah mengapa tak terucap. Tertahan dbibirnya.
“Widya…. Ibu dan Ayah sangat menyayangimu … Kamu tahu itu kan?” Lanjut ibu.
“Iya ibu…” Aku makin bingung dengan apa yang diucapkan ibu.
“Ibu ada yang mengganggu ibu?”
Ibu menghela napas, berat. Matanya tiba tiba sembab oleh air mata.
“Widya…. Apa kamu menyayangi adikmu?” Tanya ibu dengan suara parau.
“Tentu saja ibu, kenapa? Ada apa dengan Dinda?” Tanyaku lagi
“Dinda hamil Widya ….”
Kepalaku seperti terantuk batu besar dan mataku pun berkunang kunang.
“Siapa yang melakukannya bu? Kenapa bisa sampai begitu ibu?
“Sekarang bukan waktunya untuk menanyakan siapa yang melakukannya. Laki laki itu bahkan belum bisa disebut laki laki. Dia menghilang Widya. Laki –laki itu menghancurkan masa depan adikmu dan menghilang….” Ujar ibu tersendat.
“Sudah berapa lama ibu?”
“Sekarang bayi yang ada dirahim dinda sudah 3 bulan Wid, adikmu malu dan takut untuk memberitahuu ibu awalnya ….”
Aku bingung, marah dan mendendam entah seperti apa laki laki yang berbuat seperti ini pada adikku.

“Widya …” Ujar ibu sambil menatapku
“Kamu tidak mungkin membiarkan adikmu hamil tanpa ada yang bertanggungjawab kan?”
“tentu saja bu, kasihan bayinya juga nanti ….”
“Widya yang ibu minta ini berat, tapi ibu harus memintanya darimu ….” Aku tercekat, aku bingung tidak mengerti apa maksud ibu.
“Widya, Yakinkan Arya Untuk menikah dengan dinda….itu permintaan ibu. Itu satu satunya jalan untuk menolong Dinda….”

Aku seperti mendengar suara gelegar petir mendengar apa yang diminta ibu. Aku harus merelakan orang yang paling kucintai dalam hidupku untuk adikku????
“waktu terus berjalan, pikirkanlan adekmu dan bayi yang sedang dikandungnya ….,
Ibu tidak meminta jawabannya sekarang …. “

Ibu meninggalkanku dengan perasaan tidak karu karuan. Apa yang harus kulakukan. Aku sangat mencinttai Arya tapi aku juga tidak mau masa depan adikku berantakan.

‘Mas, mengertilah ….” Aku sangat mencintaimu … aku juga sangat menyayangi adikku”
“Apa kamu sadar dengan apa yang kamu minta itu?”
Aku mengangguk dengan berurai air mata. Sungguh aku sadar dan tau apa yang kuminta dari Arya.
“Tatap mataku Wid, katakan bukan itu yang kamu minta …” Arya menatap mataku lembut. Sungguh aku takberani membalasnya. Aku sungguh mencintainya.
“Bagaimana mungkin aku harus menikah dengan orang lain setelah kita lalui semuanya bersama??? “
Aku hanya menangis dan memohon. Hanya itu yang kulakukan. Hanya adikku saja yang ada dibenakku sekarang.

Tidak ada pernikahan megah. Semuanya sudah selesai. semuanya sudah selesai. Aku melepasmu Arya. Aku melepasmu untuk masa depan bayi yang tidak berdosa. Aku melepaskanmu untuk memberikan masa depan dan jalan buat mereka. Dan kini aku pergi, mengubur semua kenangan indah yang pernah kita lalui.
0 Responses
abcs